SMK Negeri 1 Singkawang Berpartisipasi Dalam Kegiatan Lomba Bersurong Saprah Dalam Rangkaian acara Hari Jadi Kota Singkawang Yang ke-23
Dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Singkawang yang ke-23, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang berkolaborasi Bersama Majelis Adat dan Budaya Melayu (MABM), mengadakan kegiatan lomba bersurong saprah pada, Kamis (17/10/2024). Kegiatan ini dilaksanakan di rumah adat melayu balai serumpun, Kota Singkawang.

Lomba Bersurung Saprah adalah sebuah ajang yang bertujuan untuk melestarikan tradisi adiluhung Melayu Sambas, khususnya dalam hal penyajian makanan atau besurong. Kegiatan ini biasanya diadakan dalam rangka perhelatan besar seperti pernikahan atau acara adat lainnya. Mengingat sebagian besar masyarakat Kota Singkawang adalah masyarakat melayu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang bersama Majelis Adat dan Budaya Melayu menjadikan kegiatan ini sebagai perlombaan.
Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 80 peserta dari berbagai kategori, mulai dari instansi sekolah, baik itu SD, SMP maupun SMA/SMK, dan juga ada peserta lain yang berasal dari instansi pemerintahan, PKK, serta paguyuban yang ada di Kota Singkawang. SMK Negeri 1 Singkawang menjadi satu satunya peserta yang berasal dari kategori SMA/SMK yang mengikuti kegiatan Lomba Bersurong Saprah. Kepala sekolah SMK Negeri 1 Singkawang, Yudi Firman Santosa, S.T, M.Ti, menyampaikan ” Berkaitan dengan kesadaran masyarakat, terutama warga sekolah akan pentingnya pengetahuan tentang kearifan lokal, bersurong saprah merupakan salah satu kearifan lokal yang mempunyai filosofi sangat mendalam duduk kita sama rendah dan berdiri kita juga kita sama tinggi. Selain itu, budaya Saprahan juga terkait dengan rasa memiliki, keramahtamahan, tenggang rasa dan tenggang rasa, serta rasa persatuan dan persaudaraan yang kuat di antara masyarakat, selain itu filosofi lain ada 5 sajian yang melambangkan rukun islam sedangkan 6 penghantar sajian melambangkan rukun iman ”.

Bersurung saprah sendiri adalah tradisi menyajikan makanan dengan tata cara dan aturan yang penuh dengan nilai-nilai budaya sopan santun. Para pesurong atau orang yang bertugas menyajikan makanan harus mengenakan pakaian adat Melayu Sambas dan memiliki keterampilan khusus dalam hal estetika penyajian.
Dengan adanya Lomba bersurung saprah ini sekaligus menjadi upaya yang sangat penting untuk menjaga kelestarian budaya Melayu Sambas. Dengan adanya lomba ini, diharapkan tradisi besurong saprah dapat terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.
Penulis: Dwi Adi Wahyudi
Editor : Sumiati